Jumat, 05 Oktober 2012

Tradisi Perang Pandan

Kabar Anehx~Bali tidak kehabisan tradisi unik. Perang pandan salah satunya. Ritual yang dilaksanakan setiap tahun ini selalu mengundang decak kagum sekaligus kengerian wisatawan.


Perang pandan atau mekare-kare dilakukan setiap tahun untuk menyambut upacara Ngusaba Desa. Lokasi di Desa Tenganan, Karangasem, 80 kilometer ke arah timur laut atau dua jam perjalanan dari Kota Denpasar. Perang pandan di Desa Adat Tenganan Dauh Tukad tahun ini diikuti hampir 200 peserta. Masing-masing peserta berhadapan dan dipimpin oleh seorang wasit, biasanya orang yang dituakan dalam perang pandan.

I Ketut Ardana, Bendesa Adat Tenganan Dauh Tukad, Karangasem, desa sejauh 80 kilometer timur laut Denpasar, tidak ada ketentuan apapaun bagi wisatawan yang ingin berperang pandan. ”Yang penting mereka mematuhi aturan tidak tidak bikin ribut,” kata Ardana.

Perang pandan, menurut Ardana bukanlah sebuah pertarungan. Menurut dia, perang pandan bermakna semangat melindungi desa dalam menghadapi bahaya yang datang dari luar desa. ”Spirit perang pandan adalah penghormataan terhadap Dewa Indra,” kata dia. Dewa Indra dalam Hindu berarti dewa perang. Setelah ritual ini, upacara dilanjutkan dengan pementasan tari Rejang Dewa di Pura Desa setempat.

Kedua kubu dibekali dengan seikat pandan dan perisai dari pohon ate. Mereka lalu bergumul dan menggeretkan pandan di punggung lawan hingga berdarah-darah. Dari perjanjian, mereka dilarang menggeretkan pandan ke wajah. Meskipun bertarung, dalam pergumulan kadang ada keceriaan berupa pekik untuk menambah semangat ketika menggeretkan pandan ke punggung lawan.


Attila Velte, seorang wisatawan tak henti-hentinya berdecak kagum dengan ritual ini. ”Menakjubkan! Saya melihat keberanian, keceriaan dan kebersamaan dalam tradisi ini,” kata Attila. Pertunjukkan perang pandan ini merupakan pertunjukkan pertama yang dia tonton.

Iringin baleganjur menambah semangat peserta perang pandan. Iramanya yang menghentak dan bertempo tinggi menjadikan geretan pandan membuat semangat pemain untuk menghujamkan pandan berduri di punggung lawan juga semakin keras. Bahkan, ketika lawan sudah jatuh dan mengucurkan darah, geretan pandan tidak berhenti dilakukan.

”Perang pandan juga mengajarkan sportivitas. Begitu semua selesai, kita akan berangkulan,” kata Ardana. Yah, spirit kebersamaan, keceriaan inilah yang diwariskan oleh perang pandan.

Sekian dan terimakasih sudah mampir ke kabar-anehx.blogspot.com yang sederhana ini, lain waktu saya akan perbanyak lagi dan tentunya dengan Pantun-pantun terbaru tentunya.
Artikel Terkait

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Ghoke | Bloggerized by Aie Dear